← Kembali ke Blog

Havedev

Aplikasi X Android Dibangun Ulang, Pelajarannya Bukan Sekadar Performa

Aplikasi X Android Dibangun Ulang, Pelajarannya Bukan Sekadar Performa

The Core Update

X akhirnya merilis aplikasi Android baru yang dibangun ulang dari awal setelah hampir satu tahun pengerjaan.

Menurut pengumuman tim engineering X, versi baru ini dibuat untuk memperbaiki pengalaman dasar seperti loading, scrolling, notifikasi, dan stabilitas aplikasi. Nikita Bier, Head of Product X, menyebut proyek ini sebagai salah satu proyek engineering terbesar dalam sejarah perusahaan.

Yang menarik, pembaruan ini bukan sekadar update kecil pada aplikasi lama. X memilih membangun ulang aplikasi Android dengan stack Kotlin dan Jetpack Compose. Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya mengganti tampilan. Mereka mengganti fondasi.

Keputusan ini masuk akal jika melihat konteksnya. Selama beberapa waktu, pengalaman X di Android tertinggal dibandingkan iOS. Bahkan pernah ada masalah serius ketika aplikasi Android tidak bisa memuat post X saat pengguna membuka link. Untuk platform sosial sebesar X, masalah seperti ini bukan gangguan kecil. Itu menyentuh pengalaman inti produk.

X juga punya alasan bisnis yang kuat. Android adalah platform dominan di banyak pasar global. Jika pengalaman Android buruk, maka produk kehilangan banyak peluang penggunaan, retensi, dan pertumbuhan di wilayah yang justru sangat penting.

Namun rilis baru ini belum berarti semua hal selesai. Bier sendiri menyebut masih ada rough edges, terutama performa di perangkat Android lama dan dukungan untuk Spaces. Beberapa fitur lain seperti video editor, react-with-video, cashtags, dan custom timelines juga masih menyusul.

Jadi kabar utamanya sederhana: X tidak lagi menambal aplikasi Android lama. Mereka memilih membangun ulang fondasi agar pengalaman pengguna lebih cepat, lebih halus, dan lebih siap untuk fitur baru.

The Reality Check

Banyak bisnis melihat berita seperti ini sebagai cerita tentang teknologi besar: Kotlin, Jetpack Compose, engineering team, dan aplikasi skala global.

Tetapi pelajaran yang lebih penting bukan teknologinya. Pelajarannya adalah soal utang produk.

Setiap produk digital punya masa ketika perbaikan kecil masih cukup. Bug diperbaiki. Halaman dirapikan. Flow disederhanakan. Performa dioptimalkan. Tim menambah fitur sesuai kebutuhan pasar.

Namun ada titik ketika masalahnya bukan lagi satu bug, satu layar, atau satu fitur. Masalahnya ada di fondasi.

Aplikasi terasa lambat bukan karena satu query. Website sulit dikembangkan bukan karena satu halaman. Dashboard membingungkan bukan karena satu chart. Sistem internal sulit dipakai bukan karena tombolnya kurang rapi.

Sering kali, produk menjadi berat karena keputusan lama menumpuk terlalu lama.

Di sinilah banyak bisnis salah membaca masalah. Mereka terus meminta tambahan fitur, padahal fondasi produknya sudah membuat setiap fitur baru semakin mahal. Mereka meminta integrasi baru, padahal data dasarnya belum rapi. Mereka meminta automation, padahal alur kerja manualnya belum jelas. Mereka meminta dashboard, padahal status pekerjaan belum disepakati.

Hasilnya, tim teknis bekerja semakin keras tetapi dampaknya semakin kecil.

Kasus X Android menunjukkan pola yang sering terjadi di skala lebih kecil. Ketika pengalaman inti sudah tertinggal, menambah fitur baru bisa menjadi tidak cukup. Pengguna tetap merasakan produk sebagai lambat, berat, atau tidak dapat diandalkan.

Ini tidak berarti semua bisnis harus rewrite aplikasi.

Justru sebaliknya. Rewrite adalah keputusan mahal dan berisiko. Banyak rewrite gagal karena dilakukan terlalu cepat, terlalu besar, atau terlalu ambisius. Kadang masalah bisa selesai dengan refactor bertahap, audit performa, perbaikan arsitektur kecil, atau penghapusan fitur yang tidak lagi dipakai.

Tetapi menolak melihat masalah fondasi juga berbahaya.

Tanda-tandanya biasanya terlihat jelas:

  • fitur kecil butuh waktu terlalu lama untuk dibuat
  • bug lama sering muncul kembali
  • performa memburuk setiap kali data bertambah
  • tim takut menyentuh bagian tertentu dari sistem
  • pengalaman pengguna berbeda jauh antar platform
  • integrasi baru selalu membutuhkan workaround
  • laporan bisnis tidak lagi dipercaya karena data tidak konsisten

Jika tanda-tanda ini muncul, pertanyaannya bukan lagi “fitur apa yang perlu ditambah?”

Pertanyaannya menjadi: bagian mana dari fondasi produk yang masih layak dipertahankan, dan bagian mana yang sudah menghambat bisnis?

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, berita X ini penting karena mengingatkan bahwa produk digital bukan hanya soal rilis fitur. Produk digital juga harus punya fondasi yang cukup sehat untuk terus bergerak.

Bagi bisnis, ini berlaku untuk website, aplikasi internal, CRM, dashboard, sistem order, portal pelanggan, dan automation.

Tidak semua masalah butuh pembangunan ulang. Bahkan sering kali langkah terbaik adalah kebalikannya: menghapus kompleksitas, merapikan alur, memperjelas status, atau memperbaiki bagian kecil yang paling sering menghambat operasional.

Sebelum memutuskan rewrite atau membuat sistem baru, bisnis sebaiknya menjawab beberapa pertanyaan dasar:

  • apakah masalah utama ada di tampilan, alur, data, performa, atau fondasi teknis?
  • apakah pengguna kesulitan karena fitur kurang, atau karena fitur yang ada tidak stabil?
  • apakah tim lambat karena kurang orang, atau karena sistem sulit diubah?
  • apakah automation akan membantu, atau hanya mempercepat proses yang masih berantakan?
  • apakah platform yang paling banyak dipakai pelanggan sudah mendapat pengalaman terbaik?

Pertanyaan terakhir sering dilupakan. X memberi perhatian besar pada Android karena Android penting untuk pasar global. Banyak bisnis juga punya versi yang sama dalam skala berbeda.

Mungkin mayoritas lead datang dari mobile, tetapi website mobile lambat. Mungkin pelanggan paling sering menghubungi lewat WhatsApp, tetapi pesan awal tidak membawa konteks. Mungkin tim paling sering memakai spreadsheet, tetapi struktur datanya tidak mendukung follow-up. Mungkin owner membaca dashboard, tetapi data yang masuk belum konsisten.

Di titik itu, solusi terbaik bukan selalu tool baru. Solusi terbaik adalah memperbaiki titik pengalaman yang paling dekat dengan pengguna, revenue, atau keputusan harian.

Havedev biasanya melihat masalah digital dari tiga lapis.

Pertama, lapis pengalaman pengguna. Apakah orang bisa membuka, memahami, dan menyelesaikan tindakan utama dengan mudah?

Kedua, lapis operasional. Apakah tim internal bisa membaca status, pemilik tugas, dan tindak lanjut tanpa menebak?

Ketiga, lapis fondasi teknis. Apakah sistem cukup stabil dan fleksibel untuk kebutuhan berikutnya?

Jika lapis pertama rusak, bisnis kehilangan peluang. Jika lapis kedua kabur, pekerjaan menjadi lambat. Jika lapis ketiga rapuh, setiap pengembangan baru menjadi mahal.

Pelajaran dari X bukan bahwa semua produk lama harus dibangun ulang. Pelajarannya adalah bisnis perlu jujur membaca kapan tambalan sudah tidak cukup.

Kadang cukup memperbaiki form. Kadang cukup merapikan status lead. Kadang cukup mempercepat halaman mobile. Kadang cukup menghubungkan data dari beberapa tool. Tetapi kadang, fondasi memang harus diganti agar produk bisa bergerak lagi.

Yang penting, keputusan itu tidak dibuat karena panik atau ikut tren teknologi. Keputusan dibuat karena ada masalah nyata yang bisa dilihat: pengalaman pengguna buruk, proses internal lambat, data tidak dipercaya, atau tim sulit membangun fitur penting.

Sebelum menambah fitur baru, cek dulu satu hal sederhana: apakah fondasi digital bisnis Anda masih membantu tim bergerak, atau sudah membuat setiap perubahan terasa berat?

Kalau jawabannya belum jelas, mulai dari audit kecil. Lihat alur utama, perangkat yang paling sering dipakai pengguna, titik lambat yang paling sering dikeluhkan, dan bagian sistem yang paling sering ditakuti tim.

Dari sana, keputusan teknologi akan lebih sehat.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau apakah website, aplikasi, dashboard, atau automation bisnis Anda masih cukup sehat untuk dikembangkan, atau sudah perlu dirapikan dari fondasinya.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca