← Kembali ke Blog

Havedev

Uber Keluar dari Serve Robotics, Sinyal Bahwa Partnership Teknologi Tidak Selalu Berarti Arah yang Sama

Uber Keluar dari Serve Robotics, Sinyal Bahwa Partnership Teknologi Tidak Selalu Berarti Arah yang Sama

Uber menjual seluruh kepemilikannya di Serve Robotics, perusahaan robot delivery otonom yang dulu lahir dari ekosistem Postmates dan kemudian punya hubungan dekat dengan Uber.

Di permukaan, kabar ini terlihat seperti transaksi saham biasa. Investor masuk, investor keluar. Perusahaan besar mengatur ulang portofolio. Startup mencari arah pertumbuhan berikutnya.

Tetapi ada pelajaran yang lebih penting dari cerita ini: partnership teknologi tidak otomatis berarti kedua pihak punya cara pandang yang sama tentang operasional.

Uber pernah menjadi pendukung Serve. Keduanya juga punya kerja sama untuk membawa robot delivery ke aplikasi Uber Eats. Bahkan pada 2023, kerja sama itu diperluas dengan rencana deployment sampai 2.000 robot sidewalk delivery di beberapa pasar Amerika Serikat.

Namun beberapa tahun kemudian, arah keduanya mulai berbeda. Serve menyebut volume delivery melalui Uber yang sebelumnya tumbuh selama 17 kuartal berturut-turut akhirnya berbalik turun pada kuartal kedua. Penyebab yang disebut adalah utilisasi robot yang lebih rendah dari ekspektasi.

Serve juga menyampaikan bahwa ada perbedaan pandangan dengan Uber tentang model operasional untuk scale fleet otonom bersama, termasuk soal koordinasi armada dan integrasi merchant.

Ini bukan sekadar cerita tentang robot. Ini cerita tentang jarak antara teknologi yang terlihat menjanjikan dan operasi harian yang harus benar-benar bekerja.

The Core Update

Uber telah menjual seluruh sahamnya di Serve Robotics. Informasi ini muncul melalui dokumen regulatory filing dan kemudian diberitakan Bloomberg.

Serve Robotics sendiri berasal dari Postmates X, divisi robotics milik Postmates. Setelah Uber mengakuisisi Postmates pada 2020, divisi ini kemudian spin out menjadi perusahaan independen bernama Serve Robotics.

Hubungan keduanya cukup dekat. Uber bukan hanya pernah menjadi investor, tetapi juga partner distribusi. Robot Serve digunakan dalam konteks delivery makanan melalui platform Uber Eats.

Namun menurut laporan, proses Uber mengurangi kepemilikannya sudah terlihat sejak 2025. Yang mengejutkan adalah penjualan akhir seluruh saham tersebut baru diketahui Serve ketika sudah resmi diungkapkan.

Di sisi bisnis, tanda perbedaan arah sudah muncul sebelumnya.

CEO Serve Robotics, Ali Kashani, menyampaikan dalam earnings call bahwa dari kuartal pertama 2022 sampai kuartal pertama tahun ini, delivery volume melalui Uber tumbuh selama 17 kuartal berturut-turut. Pada kuartal kedua, tren itu berbalik untuk pertama kalinya karena utilisasi robot lebih rendah dari ekspektasi.

Ia juga mengatakan bahwa Serve dan Uber memiliki pandangan berbeda tentang cara menskalakan fleet otonom bersama. Perbedaan ini menyentuh hal yang sangat operasional: koordinasi armada, integrasi merchant, dan model penggunaan robot di lapangan.

Serve bahkan menyampaikan bahwa kemungkinan tidak masuk akal untuk memperpanjang partnership dengan Uber ketika kontraknya berakhir pada awal 2027.

Sementara itu, Serve melihat delivery dengan partner food delivery lain tumbuh hampir 50% dalam satu kuartal.

Artinya, masalahnya belum tentu teknologinya tidak berguna. Bisa jadi teknologinya lebih cocok dengan model operasi, partner, atau kanal tertentu.

The Reality Check

Banyak orang melihat teknologi otonom dari sisi yang paling menarik: robot berjalan di trotoar, kendaraan tanpa pengemudi, delivery lebih murah, dan sistem yang terlihat otomatis.

Tetapi bisnis jarang gagal di demo. Bisnis lebih sering macet di operasi harian.

Robot delivery bukan hanya soal robot bisa bergerak dari titik A ke titik B. Ia harus masuk ke ritme merchant, pola order pelanggan, density area, waktu tunggu, koordinasi armada, support saat terjadi masalah, dan ekspektasi platform.

Kalau utilisasi rendah, teknologi yang canggih bisa tetap menjadi aset yang mahal.

Di sinilah berita Uber dan Serve menjadi menarik. Dua perusahaan bisa sama-sama percaya pada masa depan autonomous delivery, tetapi berbeda dalam cara menuju ke sana.

Satu pihak mungkin melihat scale lewat integrasi platform besar. Pihak lain mungkin melihat scale lewat kontrol lebih besar pada fleet coordination atau jenis merchant tertentu. Satu pihak mungkin mengejar fleksibilitas marketplace. Pihak lain mungkin butuh pola demand yang lebih terprediksi agar robot bekerja lebih efisien.

Tidak ada yang otomatis salah.

Tetapi perbedaan model operasional seperti ini penting karena teknologi otonom sangat bergantung pada konteks. Robot yang efektif di satu area belum tentu ekonomis di area lain. Integrasi yang lancar dengan satu partner belum tentu cocok dengan partner berikutnya. Volume order tinggi belum tentu berarti utilisasi robot juga tinggi.

Bagi bisnis, ini mengingatkan satu hal sederhana: partnership besar tidak menggantikan kesesuaian proses.

Logo partner bisa membantu kredibilitas. Investasi bisa memberi napas. Announcement bisa membuat pasar percaya. Tetapi pada akhirnya, sistem harus menjawab pertanyaan yang lebih membumi:

  • apakah unit economics masuk akal?
  • apakah operasional bisa diulang?
  • apakah partner punya definisi scale yang sama?
  • apakah integrasi benar-benar mengurangi friksi?
  • apakah volume kerja cukup cocok dengan kapasitas sistem?
  • apakah ada pemilik jelas saat proses macet?

Jika jawaban ini belum jelas, partnership besar hanya menunda pertanyaan yang sama.

Kasus Serve juga menunjukkan bahwa autonomous technology tidak bisa hanya dipahami sebagai problem engineering. Ia juga problem workflow.

Robot perlu route. Merchant perlu kesiapan. Customer perlu ekspektasi. Platform perlu reliability. Operator perlu exception handling. Data perlu dipakai untuk memperbaiki pola deployment.

Ketika salah satu bagian ini tidak selaras, sistem terlihat modern tetapi hasilnya belum tentu sehat.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, berita ini relevan bukan karena semua bisnis perlu memakai robot delivery. Kebanyakan bisnis tidak berada di tahap itu.

Yang relevan adalah polanya.

Banyak bisnis membeli tool, membuat integrasi, atau menjalankan automation dengan harapan pekerjaan menjadi lebih cepat. Tetapi sering kali masalah utama bukan kurangnya teknologi. Masalahnya adalah proses belum cukup jelas untuk diskalakan.

Uber dan Serve adalah contoh skala besar. Namun versi kecilnya sering terjadi di bisnis sehari-hari.

CRM sudah dipasang, tetapi definisi lead qualified belum sama. WhatsApp automation sudah dibuat, tetapi alur follow-up belum jelas. Dashboard sudah ada, tetapi tim masih beda tafsir tentang status order. Sistem inventory sudah dibangun, tetapi proses update stok masih tergantung satu orang.

Akhirnya tool terlihat aktif, tetapi operasi tetap berat.

Sebelum menambah sistem, bisnis perlu mengecek kesesuaian antara teknologi dan cara kerja nyata.

Pertanyaannya bukan hanya “tool apa yang bisa dipakai?”

Pertanyaannya juga:

  • pekerjaan apa yang paling sering macet?
  • status apa yang belum jelas?
  • siapa pemilik langkah berikutnya?
  • data apa yang wajib ada sejak awal?
  • kapan proses dianggap berhasil?
  • kapan proses dianggap tidak layak dilanjutkan?
  • bagian mana yang perlu otomatis, dan bagian mana yang masih perlu keputusan manusia?

Automation yang sehat dimulai dari proses yang bisa dibaca. Integrasi yang sehat dimulai dari ekspektasi yang disepakati. Partnership yang sehat dimulai dari model kerja yang sama-sama dipahami.

Jika tidak, bisnis hanya memindahkan kebingungan ke sistem yang lebih mahal.

Pelajaran dari Uber dan Serve bukan bahwa robot delivery pasti gagal. Terlalu cepat menyimpulkan begitu.

Pelajaran yang lebih masuk akal adalah: teknologi baru butuh pasangan operasional yang tepat.

Kadang partner besar bukan partner terbaik untuk tahap tertentu. Kadang volume besar tidak sama dengan utilisasi sehat. Kadang sistem yang terlihat scalable di presentasi masih perlu disesuaikan dengan ritme lapangan.

Untuk bisnis yang sedang membangun website, CRM, dashboard, atau automation, prinsipnya sama.

Jangan mulai dari fitur. Mulai dari alur kerja.

Jika alurnya jelas, teknologi bisa mempercepat. Jika alurnya kabur, teknologi hanya membuat kekaburan terlihat lebih rapi.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau apakah website, lead flow, dashboard, atau automation bisnis Anda sudah mengikuti proses kerja yang benar-benar bisa diskalakan.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca