← Kembali ke Blog

Havedev

Smart Glasses Tidak Butuh Kamera Kalau Kegunaannya Belum Jelas

Smart Glasses Tidak Butuh Kamera Kalau Kegunaannya Belum Jelas

Dalam beberapa tahun terakhir, smart glasses sering disebut sebagai antarmuka besar berikutnya setelah smartphone. Idenya terdengar masuk akal: informasi muncul langsung di depan mata, tangan tetap bebas, dan pengguna tidak perlu terus-menerus melihat layar ponsel.

Even Realities G2 mengambil arah yang menarik. Kacamata ini tidak membawa kamera dan speaker. Ia memilih layar heads-up monokrom, mikrofon, asisten AI, terjemahan, teleprompter, navigasi, notifikasi, dan catatan rapat.

Di atas kertas, ini terasa lebih sopan dibanding smart glasses yang membawa kamera. Orang di sekitar tidak perlu bertanya-tanya apakah sedang direkam. Fokusnya bukan dokumentasi, tetapi produktivitas.

Namun pertanyaan yang lebih penting tetap sama: apakah smart glasses seperti ini cukup sering dibutuhkan dalam kerja harian?

The Core Update

Even Realities G2 adalah smart glasses generasi kedua dengan desain ringan, bobot sekitar 35 gram, frame magnesium alloy, dan temple titanium alloy. Layarnya lebih terang dibanding generasi sebelumnya, dengan brightness 1.200 nits, refresh rate 60Hz, dan area tampilan yang lebih besar.

Pendekatannya berbeda dari kacamata pintar seperti Meta Ray-Ban. G2 tidak memakai kamera. Tidak ada speaker. Informasi ditampilkan lewat layar hijau bergaya neon board di depan mata pengguna.

Fitur utamanya berputar di sekitar pekerjaan:

  • jadwal dan reminder
  • notifikasi ponsel
  • terjemahan percakapan
  • teleprompter
  • to-do list
  • navigasi turn-by-turn
  • transkrip dan catatan rapat
  • asisten suara Even AI

Secara hardware, arahnya cukup jelas. Even Realities ingin membuat smart glasses yang terasa seperti alat kerja, bukan alat merekam dunia sekitar.

Itu pilihan produk yang sehat. Banyak orang belum nyaman dengan kamera yang selalu menempel di wajah orang lain. Untuk konteks meeting, perjalanan bisnis, presentasi, atau percakapan lintas bahasa, keputusan menghapus kamera bisa membuat perangkat terasa lebih dapat diterima.

Masalahnya, smart glasses tetap harus membuktikan bahwa ia menyelesaikan masalah yang cukup sering terjadi.

The Reality Check

Hardware yang bagus tidak otomatis membuat perangkat menjadi kebiasaan baru.

Dari pengalaman penggunaan yang dibahas dalam berita, G2 punya beberapa fitur yang terasa berguna. Terjemahan real-time membantu saat berbicara dengan orang yang memakai bahasa berbeda. Teleprompter bisa membantu orang yang sering presentasi. Prep notes di fitur Conversate juga menarik karena bisa memunculkan konteks singkat saat percakapan berlangsung.

Contohnya, saat briefing tentang energi, sistem bisa memunculkan penjelasan tentang istilah seperti Green Hydrogen. Ini bukan sekadar transkrip. Ini mulai mendekati bentuk bantuan yang benar-benar kontekstual.

Tetapi kegunaan seperti ini belum tentu cukup untuk pemakaian harian semua orang.

Banyak fitur lain masih terasa bergantung pada ponsel. Notifikasi kadang tidak cukup andal. Navigasi tidak memakai Google Maps atau Apple Maps, sehingga pengguna harus mengatur rute lewat aplikasi Even Realities. Jika alamat yang ditangkap tidak akurat, fitur yang seharusnya membantu justru menjadi risiko.

Asisten suara juga masih punya hambatan. Permintaan to-do list bisa salah ditangkap. Jawaban untuk pertanyaan umum bisa terlalu panjang dan berjalan di layar tanpa kontrol yang nyaman. Di luar ruangan, aktivasi suara dan akurasi mikrofon bisa terganggu oleh noise.

Ini pola yang sering muncul di produk teknologi baru: perangkat keras sudah terlihat futuristik, tetapi alur kerja sehari-hari belum cukup mulus.

Smart glasses juga punya tantangan yang lebih berat daripada aplikasi biasa. Aplikasi bisa sesekali dipakai. Perangkat di wajah harus pantas dipakai lama, tidak mengganggu, dan memberi nilai yang cukup jelas. Kalau pengguna masih harus sering membuka ponsel untuk mengatur brightness, memilih rute, atau memperbaiki koneksi, klaim hands-free menjadi berkurang.

Even juga meluncurkan ring R1 sebagai kontrol tambahan. Secara ide, ring bisa membuat interaksi lebih mudah. Tetapi jika fungsi ring banyak tumpang tindih dengan touch control di kacamata, nilainya menjadi kurang jelas. Apalagi harganya $249 dan fitur health tracking-nya bersaing dengan perangkat yang memang dibuat khusus untuk itu.

Di sini pelajarannya sederhana: aksesori untuk perangkat yang belum menjadi kebutuhan harian akan sulit terasa wajib.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, cerita Even Realities G2 bukan hanya tentang smart glasses. Ini tentang urutan membangun produk digital.

Banyak produk ingin terlihat seperti masa depan. Tetapi pengguna tidak membeli masa depan. Pengguna membeli pengurangan gesekan dalam pekerjaan hari ini.

Smart glasses tanpa kamera adalah keputusan yang masuk akal. Ia mengurangi kekhawatiran privasi. Ia membuat perangkat lebih mudah diterima di ruang kerja, konferensi, perjalanan bisnis, dan percakapan profesional.

Tetapi setelah hambatan sosial dikurangi, pertanyaan produk berikutnya menjadi lebih keras: pekerjaan mana yang benar-benar menjadi lebih mudah?

Untuk pengguna yang sering meeting lintas bahasa, G2 bisa punya tempat. Untuk pembicara yang sering presentasi, teleprompter bisa terasa praktis. Untuk orang yang sering perlu konteks cepat saat diskusi, prep notes berbasis AI bisa membantu.

Namun untuk pengguna umum, banyak kebutuhan itu masih bisa diselesaikan oleh ponsel, laptop, smartwatch, atau aplikasi meeting. Bukan selalu sebersih smart glasses, tetapi cukup baik dan sudah menjadi kebiasaan.

Di sinilah software menjadi penentu.

Even Realities sudah punya hardware yang ringan dan menarik. Tetapi perangkat seperti ini butuh first-party software yang tajam, bukan hanya daftar fitur. Satu atau dua alur kerja yang benar-benar kuat lebih bernilai daripada banyak fitur yang terasa setengah matang.

Misalnya:

  • meeting assistant yang tahu konteks agenda, peserta, dan keputusan sebelumnya
  • translation mode yang lebih natural untuk percakapan dua arah
  • teleprompter yang mudah dipakai tanpa setup panjang
  • navigation mode yang akurat dan terhubung dengan peta yang sudah dipercaya pengguna
  • assistant yang memberi jawaban ringkas, bisa dihentikan, dan bisa dikontrol tanpa membuka ponsel

Bagi bisnis, pelajarannya juga relevan. Jangan mulai dari pertanyaan “teknologi apa yang bisa dipakai?” Mulai dari pekerjaan yang paling sering macet.

Jika tim sales sering kehilangan konteks lead, mungkin butuh CRM atau automation sederhana. Jika meeting terlalu sering dipakai untuk mencari update, mungkin butuh status kerja yang lebih jelas. Jika support lambat karena informasi tersebar, mungkin butuh dashboard internal. Jika pekerja lapangan butuh instruksi tanpa memegang ponsel, mungkin wearable mulai masuk akal.

Teknologi baru menjadi bernilai ketika masuk ke alur kerja yang sudah jelas.

Smart glasses seperti Even G2 menunjukkan arah yang menarik: produktivitas tanpa kamera, bantuan kontekstual tanpa layar besar, dan interaksi yang lebih ringan daripada ponsel. Tetapi arah yang menarik belum sama dengan kebutuhan yang matang.

Sebelum smart glasses menjadi perangkat harian, ia perlu menjawab satu hal dengan sangat jelas: kapan pengguna akan merasa lebih rugi jika tidak memakainya?

Kalau jawabannya hanya “karena keren”, adopsinya akan terbatas pada penggemar gadget.

Kalau jawabannya “karena pekerjaan penting jadi lebih cepat, lebih aman, atau lebih jelas”, barulah smart glasses punya peluang menjadi alat kerja yang benar-benar dipakai.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau apakah bisnis Anda membutuhkan tool baru, automation, dashboard, atau cukup alur kerja yang lebih jelas sebelum menambah teknologi.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca