← Kembali ke Blog

Havedev

Smart Glasses Tidak Hanya Berlomba Menaruh AI di Wajah

Smart Glasses Tidak Hanya Berlomba Menaruh AI di Wajah

The Core Update

Even Realities, startup smart glasses dari Shenzhen, mendapat pendanaan $150 juta dalam putaran pre-Series B yang dipimpin Meituan dan Tencent. Putaran ini membuat valuasi perusahaan mencapai $1 miliar.

Berita ini muncul saat pasar smart glasses sedang ramai. Meta dan Snap sama-sama mendorong perangkat baru yang membawa kamera, AI assistant, dan pengalaman komputasi yang semakin dekat ke wajah pengguna.

Even Realities mengambil arah yang sedikit berbeda.

Alih-alih menjadikan kamera sebagai pusat produk, Even memilih pendekatan display-first. Produk terbarunya, Even G2, tidak memakai kamera. Informasi ditampilkan langsung di garis pandang pengguna melalui heads-up display di dalam frame. Navigasi dilakukan lewat companion ring bernama Even R1.

Perusahaan ini didirikan pada 2023 oleh mantan engineer Apple dan beberapa pendiri dari industri eyewear mewah. Produk pertamanya, Even G1, diluncurkan pada 2024 dan diklaim sebagai salah satu smart glasses waveguide paling ringan saat itu.

Menurut perusahaan, Even berhasil melewati target 10.000 unit dan menjadi pemain awal di kategori ini yang menjual lebih dari 10.000 pasang. Timnya juga tumbuh cepat, dari sekitar 30-40 orang pada 2024 menjadi 300-400 orang hari ini.

Yang menarik, sebagian besar pengguna Even justru berada di luar China. Lebih dari separuh penggunanya berada di Amerika Serikat, yang juga menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat. Pasar lain yang dibidik termasuk Jepang, Korea Selatan, Timur Tengah, dan Eropa.

Harga produknya juga tidak murah. Frame Even G2 dijual sekitar $599 sebelum pajak. Dengan lensa resep atau ring tambahan, nilai pesanan rata-rata bisa mendekati $1.000.

Di permukaan, ini terlihat seperti kabar pendanaan startup hardware biasa. Tetapi di baliknya ada sinyal yang lebih besar: industri sedang mencari bentuk komputasi baru setelah smartphone, dan smart glasses menjadi salah satu kandidat paling serius.

The Reality Check

Banyak diskusi tentang smart glasses cepat sekali masuk ke dua hal: kamera dan AI.

Kamera membuat perangkat terasa seperti alat capture. AI membuatnya terasa seperti assistant pribadi. Kombinasi keduanya terdengar kuat: pengguna bisa melihat, bertanya, merekam, menerjemahkan, dan mendapat jawaban tanpa membuka ponsel.

Tetapi pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah teknologi itu bisa dibuat.

Pertanyaannya: apakah orang di sekitar pengguna nyaman hidup bersama perangkat itu?

Smart glasses berbeda dari ponsel atau smartwatch. Ponsel bisa diletakkan di meja. Smartwatch berada di pergelangan tangan. Smart glasses berada di wajah, menghadap langsung ke orang lain, dan bisa dipakai sepanjang hari.

Karena itu, persepsi sosial menjadi bagian dari produk. Bukan tambahan kecil.

Kamera di wajah pengguna menciptakan ketegangan yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan fitur. Lampu indikator, izin aplikasi, atau kebijakan privasi bisa membantu, tetapi tidak selalu menghapus rasa diawasi. Di kantor, ruang meeting, toko, sekolah, atau ruang publik, perangkat seperti ini membawa pertanyaan baru: siapa yang sedang melihat, merekam, atau menganalisis apa?

Even mencoba mengambil posisi berbeda dengan menghapus kamera dari perangkatnya. Ini bukan berarti masalah privasi otomatis selesai. Smart glasses tetap bisa memproses suara, teks, konteks percakapan, dan data pengguna. Tetapi keputusan hardware seperti ini mengubah cara orang membaca produk.

Tanpa kamera, perangkat lebih mudah dipahami sebagai layar pribadi, bukan alat perekam.

Itu perbedaan penting.

Fitur seperti Conversate, copilot yang membaca percakapan real time, memberi penjelasan jargon, menyarankan follow-up, lalu menyinkronkan ringkasan ke ponsel, terdengar sangat berguna untuk profesional. Namun fitur seperti ini juga menunjukkan batas baru antara bantuan dan pengawasan.

Jika sistem membantu seseorang memahami percakapan, siapa yang memegang data percakapan itu? Apakah audio disimpan? Apakah hanya ditranskrip? Apakah ringkasan bisa bocor ke sistem lain? Apakah orang lain di percakapan tahu bahwa AI sedang membantu pengguna?

Even menyebut pendekatannya lebih berhati-hati: transkripsi audio menjadi teks, bukan penyimpanan rekaman; data pengguna terenkripsi; infrastruktur dirancang mengikuti standar privasi Eropa.

Itu arah yang sehat. Tetapi pasar tetap perlu melihat bukti konsistensinya saat skala pengguna naik.

Ada juga realitas lain: smart glasses belum tentu gagal karena teknologinya kurang pintar. Ia bisa gagal karena kegunaannya terlalu kabur.

Banyak perangkat wearable terlihat menarik di demo, tetapi sulit menjadi kebiasaan harian. Pengguna tidak hanya membeli fitur. Mereka membeli alasan untuk memakai sesuatu setiap hari di tubuh mereka.

Untuk smart glasses, alasan itu harus sangat kuat. Perangkat harus nyaman, ringan, tidak membuat canggung, baterainya masuk akal, tampilannya jelas, dan manfaatnya muncul berkali-kali dalam aktivitas nyata.

Harga sekitar $1.000 juga mempersempit pasar awal. Ini bukan produk massal untuk semua orang. Untuk saat ini, pelanggan Even terlihat lebih dekat ke profesional pria usia 30-50 tahun, termasuk eksekutif perusahaan. Artinya, use case awal kemungkinan besar berada di produktivitas, meeting, percakapan bisnis, penerjemahan, dan akses informasi cepat.

Itu masuk akal.

Tetapi kalau smart glasses ingin menjadi kategori besar, ia tidak cukup hanya menjadi gadget mahal untuk early adopter. Ia harus menjadi alat yang membuat pekerjaan atau hidup sehari-hari terasa lebih ringan tanpa membuat lingkungan sosial terasa lebih berat.

Di sinilah pendekatan display-first menjadi menarik. Bukan karena pasti menang, tetapi karena ia menolak asumsi bahwa masa depan smart glasses harus selalu dimulai dari kamera.

Kadang produk yang lebih sempit justru lebih mudah dipercaya.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, berita Even Realities bukan sekadar cerita tentang hardware baru atau valuasi startup.

Ini cerita tentang desain teknologi yang dimulai dari friksi nyata.

Banyak perusahaan ingin menambahkan AI ke produk secepat mungkin. Banyak juga yang ingin menambahkan kamera, data, dashboard, automation, dan assistant pribadi. Secara teknis, semua itu semakin mudah dibuat.

Tetapi teknologi yang dekat dengan manusia membutuhkan pertanyaan yang lebih disiplin.

Apa konteks pengguna saat fitur dipakai?

Siapa lagi yang terdampak oleh fitur itu?

Data apa yang benar-benar perlu diproses?

Apakah fitur membuat pekerjaan lebih jelas, atau hanya menambah lapisan baru yang harus dijelaskan?

Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk smart glasses. Prinsip yang sama berlaku untuk website, CRM, dashboard, chatbot, internal tool, dan automation bisnis.

Sebuah bisnis bisa saja memasang AI chatbot di website. Tetapi kalau alur follow-up belum jelas, chatbot hanya mempercepat masuknya percakapan yang tetap membingungkan tim.

Sebuah perusahaan bisa membuat dashboard baru. Tetapi kalau definisi status lead, order, support, dan project belum disepakati, dashboard hanya menampilkan kekacauan dalam bentuk grafik.

Sebuah tim bisa memakai automation untuk reminder dan reporting. Tetapi kalau aturan kapan harus follow-up masih kabur, automation hanya membuat notifikasi yang diabaikan.

Pelajaran dari Even cukup sederhana: fitur yang kuat belum tentu fitur yang paling banyak mengambil data. Kadang fitur yang lebih dipercaya adalah fitur yang tahu batas.

Menghapus kamera dari smart glasses adalah keputusan produk. Tetapi juga keputusan posisi. Even sedang mengatakan bahwa smart glasses bisa berguna tanpa harus menjadi alat capture terus-menerus.

Untuk bisnis, pola pikir ini penting.

Sebelum menambahkan AI atau automation, tanyakan dulu:

  • proses mana yang benar-benar butuh bantuan?
  • informasi apa yang perlu muncul tepat waktu?
  • data apa yang tidak perlu dikumpulkan?
  • siapa yang harus nyaman dengan sistem ini?
  • apa batas yang membuat pengguna tetap percaya?

Teknologi yang baik bukan hanya yang bisa melakukan banyak hal. Teknologi yang baik membantu orang mengambil tindakan dengan lebih jelas, tanpa membuat sistem menjadi lebih berat dari masalah awalnya.

Smart glasses mungkin menjadi salah satu bentuk komputasi berikutnya. Mungkin juga butuh waktu panjang sebelum benar-benar umum dipakai.

Tetapi arah yang sedang terlihat sudah cukup jelas: AI tidak akan hanya hidup di chat box. Ia akan masuk ke perangkat, workflow, meeting, layar kecil, suara, dan konteks kerja harian.

Karena itu, bisnis perlu mulai belajar membedakan antara AI sebagai fitur dan AI sebagai bagian dari pengalaman kerja yang utuh.

Jika AI hanya ditempel, hasilnya sering terlihat modern tetapi sulit dipakai.

Jika AI ditempatkan di titik yang tepat, dengan data yang cukup, batas yang jelas, dan alur tindak lanjut yang rapi, nilainya jauh lebih terasa.

Even Realities belum tentu menjadi pemenang akhir smart glasses. Meta, Snap, Apple, dan pemain lain masih punya sumber daya besar. Tetapi pendekatan Even memberi pengingat yang sehat: masa depan perangkat pintar tidak hanya ditentukan oleh siapa yang punya kamera paling canggih atau model AI paling besar.

Masa depan juga ditentukan oleh siapa yang paling paham kapan teknologi perlu hadir, kapan perlu diam, dan kapan perlu menjaga jarak.

Untuk bisnis, itu pelajaran yang sangat praktis.

Jangan mulai dari pertanyaan, “AI apa yang bisa kita pasang?”

Mulai dari pertanyaan, “momen kerja mana yang butuh konteks lebih jelas, keputusan lebih cepat, dan kepercayaan lebih tinggi?”

Jawaban itu biasanya membawa solusi yang lebih kecil, tetapi lebih berguna.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau apakah website, workflow, dan automation bisnis Anda sudah memberi konteks yang cukup jelas sebelum menambah tool atau fitur AI baru.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca