Como 1907: Saat Manajemen yang Rapi Mengubah Klub Kecil Jadi Cerita Besar
Ada satu cerita menarik dari sepakbola Italia yang sebenarnya cukup dekat dengan Indonesia.
Namanya Como 1907.
Klub ini dimiliki oleh investor asal Indonesia melalui SENT Entertainment, yang terafiliasi dengan keluarga Hartono. Dalam beberapa tahun, Como berhasil naik dari level bawah sepakbola Italia sampai kembali ke Serie A.
Kalau dilihat sekilas, ini terdengar seperti cerita sepakbola biasa: klub dibeli investor besar, lalu perlahan naik kasta.
Tapi kalau dilihat lebih dalam, cerita Como bukan hanya tentang sepakbola. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah organisasi dibangun ulang dengan sistem, struktur, visi, dan eksekusi yang konsisten.
Dan pola seperti ini sangat relevan untuk bisnis modern.
Karena pada akhirnya, baik klub sepakbola maupun perusahaan digital punya tantangan yang mirip: bagaimana membangun fondasi yang cukup kuat agar bisa tumbuh lebih jauh.
Uang Bisa Membeli Klub, Tapi Tidak Bisa Membeli Sistem
Ketika SENT Entertainment mengambil alih Como pada 2019, klub ini tidak sedang berada di posisi glamor.
Como bukan raksasa Serie A. Bukan klub dengan revenue besar. Bukan brand global yang setiap pekan disorot media dunia.
Mereka berada di level bawah piramida sepakbola Italia.
Tapi justru di situ letak menariknya.
Dalam dunia bisnis, kondisi seperti ini mirip dengan perusahaan yang sebenarnya punya potensi besar, tapi belum memiliki sistem yang matang. Produk ada. Pasar ada. Pelanggan mungkin sudah ada. Tapi proses internal, teknologi, data, dan operasionalnya belum sepenuhnya siap untuk tumbuh.
Banyak organisasi berada di fase seperti ini.
Dari luar terlihat berjalan. Tapi di dalam, banyak proses masih manual, data tersebar, keputusan diambil berdasarkan feeling, dan tim mulai kewalahan ketika volume pekerjaan meningkat.
Como menunjukkan bahwa naik kelas tidak dimulai dari hasil akhir. Naik kelas dimulai dari membenahi sistem di belakangnya.
Klub ini tidak hanya dibeli. Mereka dibangun ulang.
Struktur organisasi diperbaiki. Orang-orang tepat dimasukkan. Strategi rekrutmen dibuat lebih jelas. Identitas permainan dibangun. Infrastruktur mulai dikembangkan. Relasi dengan komunitas lokal tetap dijaga.
Tidak semuanya terlihat dari luar.
Tapi justru hal-hal yang tidak terlihat itulah yang sering menentukan hasil jangka panjang.
Growth Akan Memperbesar Fondasi yang Sudah Ada
Banyak organisasi ingin langsung scale.
Ingin langsung punya lebih banyak customer.
Ingin langsung ekspansi.
Ingin langsung punya aplikasi.
Ingin langsung automation.
Ingin langsung terlihat modern.
Masalahnya, scale tidak selalu menyelesaikan masalah. Kadang scale justru memperbesar masalah yang sebelumnya tersembunyi.
Kalau proses bisnis masih berantakan, pertumbuhan akan membuatnya semakin kacau.
Kalau data tidak rapi, semakin banyak transaksi justru semakin sulit dianalisis.
Kalau sistem digital tidak scalable, semakin banyak user justru membuat performa menurun.
Kalau operasional masih bergantung pada orang tertentu, semakin besar tim justru semakin sulit dikendalikan.
Como mengambil pendekatan yang lebih sabar.
Mereka tidak mencoba melompat terlalu cepat. Mereka naik bertahap, memperkuat fondasi, belajar dari setiap level kompetisi, lalu membangun kapasitas organisasi sebelum menghadapi tekanan yang lebih besar.
Ini mirip dengan cara membangun produk digital yang sehat.
Sebelum mengejar banyak fitur, core flow harus benar.
Sebelum automation, proses bisnis harus dipahami.
Sebelum scaling user, arsitektur sistem harus siap.
Sebelum membuat dashboard, data harus dirapikan.
Sebelum membangun platform besar, problem utama harus jelas.
Pertumbuhan yang sehat memang sering terasa lebih lambat di awal.
Tapi dalam jangka panjang, fondasi yang rapi membuat organisasi lebih siap menghadapi kompleksitas.
Cesc Fàbregas dan Pentingnya Memilih Orang yang Sesuai Visi
Salah satu keputusan paling menarik dari Como adalah melibatkan Cesc Fàbregas dalam proyek klub.
Awalnya Fàbregas datang sebagai pemain. Lalu perlahan ia menjadi bagian penting dari arah teknis Como, masuk ke struktur kepelatihan, dan menjadi wajah dari proyek sepakbola modern yang sedang dibangun klub ini.
Kalau dinilai dari pengalaman formal sebagai pelatih, keputusan ini terlihat berisiko.
Namun Como tampaknya tidak hanya melihat pengalaman di atas kertas. Mereka melihat cara berpikir, referensi, jaringan, dan kecocokan dengan arah jangka panjang klub.
Fàbregas pernah belajar langsung dari pelatih-pelatih besar seperti Arsène Wenger, Pep Guardiola, José Mourinho, Vicente del Bosque, hingga Antonio Conte. Ia membawa perspektif sepakbola yang luas dan modern.
Dalam bisnis digital, memilih talent atau partner juga tidak bisa hanya berdasarkan checklist teknis.
Tentu kemampuan teknis penting. Tapi membangun software untuk bisnis bukan hanya tentang menulis kode.
Yang lebih penting adalah kemampuan memahami konteks bisnis, menerjemahkan masalah menjadi solusi, memilih prioritas, dan membangun sistem yang bisa berkembang.
Developer yang baik tidak hanya bertanya, “fiturnya apa saja?”
Mereka juga perlu bertanya:
- proses bisnisnya seperti apa?
- siapa user utamanya?
- masalah apa yang paling sering terjadi?
- data apa yang perlu dilihat oleh tim?
- bagian mana yang paling menghambat operasional?
- sistem ini perlu bertahan untuk skala seperti apa?
Karena software yang baik bukan hanya software yang selesai dibuat.
Software yang baik adalah software yang membantu bisnis bekerja lebih baik.
Rekrutmen Bukan Hanya Soal Nama Besar
Setelah promosi ke Serie A, Como mulai menarik perhatian karena mendatangkan beberapa pemain berpengalaman.
Ada Raphaël Varane, Pepe Reina, Sergi Roberto, dan Andrea Belotti.
Nama-nama ini jelas punya daya tarik besar. Tapi kalau dilihat lebih dalam, strategi ini bukan hanya soal popularitas.
Pemain berpengalaman membawa hal-hal yang tidak selalu terlihat di statistik: standar kerja, mentalitas, ketenangan, pengalaman menghadapi tekanan, dan kemampuan menaikkan level orang-orang di sekitarnya.
Dalam organisasi, ini adalah bentuk leverage.
Satu orang yang tepat bisa membuat satu tim bekerja lebih baik.
Hal yang sama berlaku dalam pengembangan software.
Kadang perusahaan memilih membangun sistem digital hanya dengan pertimbangan paling cepat atau paling murah. Yang penting website jadi. Yang penting aplikasi bisa dipakai. Yang penting fitur sesuai list awal.
Pendekatan ini bisa terlihat aman di awal.
Tapi ketika sistem mulai digunakan lebih banyak orang, masalah biasanya mulai muncul.
Flow tidak nyaman. Database sulit dikembangkan. Integrasi berantakan. Bug sulit dilacak. Performa turun. Dokumentasi tidak jelas. Setiap perubahan kecil menjadi mahal.
Di titik itu, pengalaman menjadi sangat penting.
Bukan karena semua hal harus dibuat kompleks sejak awal. Tapi karena sistem yang baik perlu dirancang dengan mempertimbangkan masa depan.
Sama seperti Como yang perlu pemain berpengalaman untuk naik level, bisnis juga perlu partner teknologi yang sudah terbiasa membangun sistem dengan cara yang benar.
Identitas Permainan Sama Pentingnya dengan Product Direction
Di bawah Fàbregas, Como mencoba bermain dengan identitas yang cukup jelas.
Mereka tidak hanya bertahan dan menunggu kesalahan lawan. Mereka mencoba membangun serangan, menguasai bola, dan bermain lebih proaktif.
Untuk klub promosi, ini bukan pilihan yang mudah.
Cara paling aman biasanya adalah bermain pragmatis. Yang penting tidak kalah. Yang penting bertahan.
Tapi Como tampaknya ingin membangun sesuatu yang lebih panjang dari sekadar selamat satu musim.
Mereka ingin punya identitas.
Dalam produk digital, ini mirip dengan product direction.
Produk yang baik tidak hanya berisi kumpulan fitur. Produk yang baik punya arah.
Ada alasan kenapa satu fitur dibuat lebih dulu.
Ada alasan kenapa fitur lain ditunda.
Ada alasan kenapa flow dibuat sederhana.
Ada alasan kenapa data tertentu harus terlihat di dashboard.
Ada alasan kenapa integrasi tertentu menjadi prioritas.
Tanpa arah, produk akan berubah menjadi tumpukan request.
Hari ini tambah report. Besok tambah export. Lusa tambah notifikasi. Minggu depan tambah role management. Semua terlihat produktif, tapi lama-lama produk kehilangan fokus.
Banyak software menjadi berat bukan karena fiturnya kurang, tapi karena terlalu banyak fitur yang tidak lahir dari arah yang jelas.
Como memberi pelajaran bahwa organisasi yang ingin naik kelas harus tahu ingin dikenal karena apa.
Bisnis digital juga begitu.
Website, aplikasi, dashboard, atau sistem internal tidak cukup hanya “ada”. Ia perlu mencerminkan cara bisnis ingin bekerja dan bertumbuh.
Yang Tidak Terlihat Sering Kali Paling Menentukan
Dalam sepakbola modern, kemenangan tidak hanya ditentukan oleh 90 menit pertandingan.
Ada scouting, analisis performa, sport science, recovery, nutrisi, video analysis, data pertandingan, dan manajemen beban latihan.
Sebagian besar tidak terlihat oleh penonton.
Tapi justru di situ keunggulan kompetitif dibangun.
Dalam software, hal yang sama terjadi.
User hanya melihat interface. Tombol. Form. Dashboard. Halaman login. Grafik. Notifikasi.
Tapi di belakangnya ada banyak keputusan penting:
- bagaimana arsitektur sistem dirancang,
- bagaimana data disimpan,
- bagaimana keamanan dijaga,
- bagaimana performa dioptimalkan,
- bagaimana sistem terhubung dengan tools lain,
- bagaimana error dipantau,
- bagaimana produk bisa dikembangkan tanpa harus dibongkar dari awal.
Hal-hal ini jarang terlihat di demo pertama.
Tapi akan sangat terasa ketika bisnis mulai tumbuh.
Software yang dibuat cepat tanpa fondasi mungkin terlihat cukup baik pada bulan pertama. Bedanya baru terasa ketika data semakin banyak, user semakin aktif, kebutuhan semakin kompleks, dan tim mulai bergantung pada sistem tersebut setiap hari.
Como tidak naik kelas hanya karena pemain yang terlihat di lapangan.
Ada sistem di belakangnya.
Bisnis digital juga sama. Tampilan depan penting, tapi fondasi teknis dan proses di belakangnya sering kali jauh lebih menentukan.
Brand Como: Cerita yang Dibangun dengan Konsisten
Como punya aset yang unik: lokasinya.
Danau Como adalah salah satu kawasan paling indah dan prestisius di Italia. Klub ini tidak hanya membawa identitas sepakbola, tapi juga lifestyle, pariwisata, sejarah, dan kultur lokal.
Manajemen Como tampaknya memahami bahwa brand bukan hanya logo.
Brand adalah cerita yang konsisten.
Mereka punya cerita yang kuat: klub bersejarah, kota yang indah, investor Indonesia, perjalanan dari divisi bawah, pelatih muda dengan nama besar, dan ambisi membangun klub modern.
Cerita seperti ini membuat orang lebih mudah peduli.
Dalam dunia digital, hal yang sama berlaku.
Website company profile bukan hanya tempat menaruh logo dan daftar layanan. Landing page bukan hanya halaman dengan tombol “hubungi kami”. Aplikasi bukan hanya kumpulan fitur.
Setiap touchpoint digital adalah bagian dari cara bisnis bercerita.
Apakah bisnis terlihat profesional?
Apakah calon customer mudah memahami value yang ditawarkan?
Apakah prosesnya terasa simpel?
Apakah user merasa percaya?
Apakah pengalaman digitalnya konsisten dengan kualitas layanan di dunia nyata?
Karena itu, membangun produk digital tidak bisa dilepaskan dari strategi brand dan customer experience.
Teknologi yang baik bukan hanya membantu bisnis terlihat modern. Ia membantu bisnis lebih mudah dipercaya, dipahami, dan digunakan.
Jangan Hanya Membangun Software. Bangun Cara Kerja yang Lebih Baik.
Cerita Como memberi satu pelajaran besar: prestasi adalah hasil dari sistem.
Bukan satu transfer besar.
Bukan satu pelatih terkenal.
Bukan satu musim bagus.
Bukan satu keputusan viral.
Tapi akumulasi dari banyak keputusan yang konsisten.
Hal yang sama berlaku untuk bisnis.
Banyak perusahaan mulai masuk ke kebutuhan digital dengan pertanyaan:
“Kita butuh aplikasi. Berapa biayanya?”
Pertanyaan itu wajar.
Tapi sebelum sampai ke sana, ada pertanyaan yang sering lebih penting:
“Apa proses bisnis yang ingin kita perbaiki?”
“Masalah apa yang paling sering menghambat tim?”
“Data apa yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan?”
“Bagian mana yang masih terlalu manual?”
“Bagaimana sistem ini membantu bisnis tumbuh?”
“Apakah solusi ini masih relevan satu atau dua tahun ke depan?”
Software seharusnya bukan sekadar output.
Software adalah alat untuk memperbaiki cara organisasi bekerja.
Kalau proses masih manual dan berulang, software bisa membantu automation.
Kalau data tersebar di banyak tempat, software bisa membantu centralization.
Kalau customer journey membingungkan, software bisa membantu simplification.
Kalau sales sulit dipantau, software bisa membantu tracking.
Kalau operasional tidak terlihat jelas, software bisa membantu visibility.
Dengan kata lain, software yang baik bukan hanya dibuat untuk memenuhi daftar fitur.
Software yang baik dibuat untuk menghasilkan dampak bisnis.
Di Sini Havedev Biasanya Mulai Membantu
Di Havedev, kami sering bertemu bisnis yang sebenarnya sudah punya potensi besar, tapi sistem digitalnya belum mendukung pertumbuhan.
Ada yang masih mengandalkan spreadsheet untuk proses penting.
Ada yang punya website, tapi belum cukup kuat membangun trust.
Ada yang punya aplikasi, tapi sulit dikembangkan karena fondasinya tidak rapi.
Ada yang ingin automation, tapi proses bisnisnya belum terpetakan.
Ada yang ingin dashboard, tapi datanya masih tersebar di banyak tempat.
Ada yang ingin scale, tapi belum punya sistem yang bisa mengikuti pertumbuhan itu.
Biasanya, masalahnya bukan karena bisnis tersebut tidak mampu bertumbuh.
Masalahnya adalah sistemnya belum ikut naik kelas.
Di titik seperti ini, software development tidak bisa hanya diposisikan sebagai pekerjaan teknis. Ia perlu dilihat sebagai bagian dari strategi bisnis.
Karena itu, pendekatan yang lebih sehat biasanya dimulai dari memahami konteks:
- bisnisnya sedang berada di fase apa,
- proses mana yang paling penting,
- bottleneck terbesar ada di mana,
- user yang akan memakai sistem siapa saja,
- output bisnis yang ingin dicapai apa,
- dan bagaimana solusi digital ini bisa dikembangkan secara bertahap.
Tidak semua bisnis butuh aplikasi besar sejak hari pertama.
Kadang yang dibutuhkan adalah website yang lebih jelas dan meyakinkan.
Kadang sistem internal sederhana untuk merapikan operasional.
Kadang dashboard untuk membuat data lebih terlihat.
Kadang automation kecil yang menghemat banyak waktu tim.
Kadang integrasi antar tools agar pekerjaan tidak berulang.
Yang penting bukan terlihat paling canggih.
Yang penting adalah tepat guna, bisa dipakai, dan membantu bisnis bergerak lebih rapi.
Penutup
Como 1907 adalah cerita sepakbola. Tapi pelajarannya jauh melampaui sepakbola.
Ia menunjukkan bahwa organisasi bisa naik kelas ketika dikelola dengan visi yang jelas, fondasi yang kuat, orang yang tepat, dan eksekusi yang konsisten.
Bagi bisnis, pelajarannya sederhana:
jangan hanya mengejar hasil akhir yang terlihat.
Bangun sistem di belakangnya.
Karena website, aplikasi, dashboard, automation, dan platform digital yang baik bukan sekadar proyek teknologi. Itu adalah bagian dari cara bisnis membangun keunggulan kompetitif.
Como membuktikan bahwa manajemen yang rapi bisa membawa klub kecil ke Serie A.
Dalam bisnis, sistem digital yang tepat bisa membantu perusahaan bergerak ke level berikutnya.
Kalau saat ini bisnis Anda sedang berada di fase ingin merapikan proses, membangun sistem, atau menyiapkan fondasi digital yang lebih scalable, mungkin ini waktu yang tepat untuk mulai memetakannya.
Havedev bisa membantu Anda menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi solusi digital yang lebih terarah — mulai dari website, aplikasi, sistem internal, dashboard, hingga automation yang sesuai dengan tahap pertumbuhan bisnis Anda.