← Kembali ke Blog

Havedev

OpenAI Mengakuisisi NextSlide, Tetapi Masalah Presentasi Bukan Hanya Membuat Slide

OpenAI Mengakuisisi NextSlide, Tetapi Masalah Presentasi Bukan Hanya Membuat Slide

OpenAI kembali menambah kemampuan produknya lewat akuisisi tim kecil yang fokus pada pekerjaan praktis. Kali ini, NextSlide, startup yang membuat produk untuk mengubah prompt, catatan, dokumen, atau riset menjadi presentasi yang rapi dan bisa diedit, bergabung dengan OpenAI.

Founder NextSlide, Ahmed Beshry, menyebut tujuan produknya adalah membuat komunikasi visual lebih mudah diakses dan membantu lebih banyak orang mengekspresikan ide dengan jelas. Setelah bergabung dengan OpenAI, tim NextSlide akan bekerja pada ChatGPT dan melanjutkan misi yang sama: membantu orang membuat, berkomunikasi, dan mengubah ide menjadi pekerjaan yang bermakna.

Detail finansial akuisisi ini tidak diumumkan. Menurut catatan Ahmed Beshry di LinkedIn, pengumuman ini juga datang beberapa bulan setelah akuisisinya terjadi.

Di permukaan, ini terdengar seperti berita produk AI biasa. ChatGPT akan makin pintar membuat presentasi. Pengguna mungkin bisa memberi catatan kasar, lalu mendapatkan deck yang lebih siap pakai.

Tetapi ada hal yang lebih penting untuk dibaca: AI sedang bergerak dari sekadar menjawab pertanyaan menjadi membantu membentuk output kerja yang dipakai dalam bisnis sehari-hari.

The Core Update

NextSlide berada di area yang sangat dekat dengan pekerjaan knowledge worker: mengubah bahan mentah menjadi presentasi.

Banyak tim sudah punya materi. Ada riset, catatan meeting, brief project, proposal lama, dokumen strategi, hasil audit, atau kumpulan poin dari chat internal. Masalahnya, bahan itu sering belum menjadi cerita yang bisa dipahami orang lain.

Presentasi biasanya bukan hanya soal desain slide. Presentasi adalah cara menyusun argumen.

Apa masalahnya? Mengapa penting sekarang? Data apa yang mendukung? Pilihan apa yang tersedia? Keputusan apa yang diminta? Siapa yang perlu bergerak setelah meeting selesai?

Kalau AI bisa membantu mengubah bahan mentah menjadi struktur visual yang lebih jelas, nilai praktisnya besar. Bukan karena semua orang ingin menjadi desainer slide, tetapi karena banyak pekerjaan bisnis akhirnya harus dikomunikasikan dalam bentuk ringkas, visual, dan bisa diputuskan.

Akuisisi ini juga masuk akal bagi OpenAI. ChatGPT sudah dipakai untuk menulis email, merapikan dokumen, membuat ringkasan, menyusun ide konten, dan membantu coding. Presentasi adalah kelanjutan yang natural: dari percakapan menjadi artefak kerja.

Jika kemampuan seperti NextSlide masuk lebih dalam ke ChatGPT, pengguna tidak hanya meminta “buatkan outline”. Mereka bisa membawa dokumen, catatan, atau riset, lalu meminta AI menyusunnya menjadi deck yang bisa diedit dan dipakai.

Ini bukan perubahan kecil. Bagi banyak bisnis, dokumen yang rapi sering kalah penting dibanding bahan komunikasi yang bisa langsung dipakai untuk menjual ide, meminta approval, atau menyamakan arah tim.

The Reality Check

Namun ada jebakan yang perlu dihindari: presentasi yang lebih cepat dibuat tidak otomatis membuat komunikasi lebih jelas.

Banyak presentasi buruk bukan karena slide-nya kurang cantik. Banyak presentasi buruk karena pesannya belum matang.

Tim belum tahu keputusan apa yang diminta. Data dipilih karena tersedia, bukan karena relevan. Masalah terlalu melebar. Audience belum jelas. Slide terlalu cepat melompat dari gejala ke solusi. Narasi terlihat rapi, tetapi tidak membantu orang mengambil keputusan.

AI bisa mempercepat pembuatan deck. Tetapi kalau input-nya kabur, output-nya hanya menjadi kekaburan yang lebih rapi.

Ini mirip dengan masalah tool di operasional bisnis. Banyak bisnis menambah CRM, dashboard, atau automation sebelum menyepakati status kerja yang jelas. Akhirnya sistem terlihat modern, tetapi keputusan tetap harus dikejar lewat chat dan meeting.

Hal yang sama bisa terjadi pada presentasi.

AI bisa membuat 20 slide dalam beberapa menit. Tetapi kalau tim belum tahu inti pesan, deck itu bisa menjadi lebih panjang dari yang dibutuhkan. AI bisa membuat struktur yang tampak profesional, tetapi tetap tidak menjawab pertanyaan paling penting: setelah membaca ini, audience harus percaya apa dan melakukan apa?

Di sinilah sikap yang lebih sehat diperlukan.

Bukan menolak AI presentation tool. Justru sebaliknya, tool seperti ini akan sangat berguna. Tetapi bisnis perlu melihatnya sebagai alat untuk mempercepat penyusunan komunikasi, bukan pengganti kejernihan berpikir.

Sebelum meminta AI membuat presentasi, tim tetap perlu menjawab beberapa hal dasar:

  • siapa audience-nya?
  • keputusan apa yang ingin didapat?
  • masalah apa yang sedang dibahas?
  • bukti apa yang paling relevan?
  • opsi apa yang perlu dibandingkan?
  • risiko apa yang perlu terlihat?
  • tindakan berikutnya apa yang diharapkan?

Jika pertanyaan ini belum jelas, AI akan tetap bekerja. Tetapi hasilnya mungkin hanya terasa bagus di permukaan.

The Havedev Way

Dari sudut pandang Havedev, akuisisi NextSlide oleh OpenAI adalah sinyal bahwa AI akan makin masuk ke workflow komunikasi bisnis, bukan hanya workflow teknis.

Ini penting untuk owner, manager, sales, consultant, trainer, dan tim operasional. Banyak pekerjaan mereka bukan sekadar membuat sesuatu, tetapi menjelaskan sesuatu agar orang lain bisa bergerak.

Proposal harus membuat calon client paham nilai. Laporan harus membuat manager melihat risiko. Dashboard harus membantu owner membaca prioritas. Dokumentasi harus membuat tim tidak bertanya hal yang sama berulang kali. Presentasi internal harus membantu keputusan, bukan hanya mengisi agenda meeting.

Karena itu, pendekatan yang sehat bukan bertanya: “AI apa yang bisa membuat slide paling cepat?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: “Bagian komunikasi mana yang paling sering membuat pekerjaan tertunda, salah paham, atau perlu dijelaskan ulang?”

Untuk banyak bisnis, jawabannya bisa berbeda:

  • proposal sales terlalu lama dibuat
  • report bulanan sulit dipahami owner
  • materi training internal tidak konsisten
  • hasil audit teknis sulit diterjemahkan ke keputusan bisnis
  • brief project terlalu panjang tetapi tidak actionable
  • meeting deck dibuat mendadak dan tidak punya struktur keputusan

Jika masalahnya sudah jelas, AI bisa dipakai dengan lebih tepat. Bukan untuk membuat semua slide, tetapi untuk membantu menyusun bahan, merapikan narasi, membuat versi ringkas, menyesuaikan pesan untuk audience berbeda, atau mengubah dokumen panjang menjadi komunikasi yang lebih mudah dibaca.

Dalam praktiknya, bisnis bisa mulai dari satu alur sederhana.

Misalnya proposal. Kumpulkan proposal lama, daftar pertanyaan client, layanan yang paling sering dijual, bukti hasil kerja, dan struktur harga. Dari sana, AI bisa membantu membuat draft proposal yang lebih konsisten. Tetapi standar pesan tetap harus datang dari bisnis: masalah apa yang diselesaikan, batas layanan apa yang jelas, dan keputusan apa yang ingin diminta dari client.

Atau laporan operasional. AI bisa membantu meringkas data dan membuat narasi. Tetapi bisnis tetap perlu menentukan metrik mana yang penting, status mana yang harus dilihat, dan risiko mana yang perlu naik ke owner.

Jadi pelajarannya bukan “AI akan menggantikan desainer presentasi” atau “semua orang tidak perlu belajar komunikasi lagi”.

Pelajaran yang lebih realistis: AI akan membuat produksi komunikasi visual lebih murah dan lebih cepat. Karena itu, pembeda bisnis bukan lagi siapa yang bisa membuat slide rapi. Pembeda bisnis adalah siapa yang punya pesan, struktur, data, dan keputusan yang jelas.

OpenAI membeli kemampuan untuk membantu orang mengubah ide menjadi output yang lebih siap pakai. Tetapi ide yang baik tetap perlu dibentuk dari pemahaman masalah yang baik.

Sebelum memakai AI untuk membuat presentasi berikutnya, cek dulu satu hal sederhana: apakah tim Anda sudah tahu keputusan apa yang ingin dibantu oleh presentasi itu?

Kalau jawabannya belum jelas, mulai dari sana.

Dapatkan Audit Teknis Gratis untuk meninjau workflow digital, lead, laporan, dan komunikasi bisnis yang masih terlalu banyak bergantung pada proses manual atau penjelasan berulang.


Sumber referensi berita: TechCrunch

Lanjut Baca